Postingan

Pengukuran Kinerja Menggunakan Balanced Scorecard pada Instansi Pemerintah

Gambar
Tujuan utama dari sebuah entitas atau organisasi adalah kelangsungan hidup atau going concern, sehingga pengukuran kinerja menjadi penting apakah organisasi sudah berjalan sebagaimana mestinya. Kinerja merupakan hasil pelaksanaan suatu pekerjaan baik bersifat fisik ataupun material dan non fisik atau non material (Cantika, 2005:114). Pada beberapa tahun terakhir, disadari bahwa ukuran kinerja keuangan (traditional financial measures) yang digunakan oleh instansi untuk mengukur kinerja tidak lagi memadai, karena ukuran kinerja keuangan mengandalkan informasi yang dihasilkan dari sistem akuntansi berfokus keuangan mengakibatkan organisasi lebih memfokuskan pada perwujudan kinerja jangka pendek.

Manajemen Risiko Pemerintah (Pengantar)

Gambar
Adanya tuntutan transparansi dari sektor publik dan peningkatan kinerja dengan tenaga terbatas, risiko yang dihadapi instansi pemerintah akan semakin bertambah dan meningkat. Oleh karenanya, pemahaman terhadap risiko dibutuhkan untuk dapat menentukan prioritas strategi dan program dalam pencapaian tujuan organisasi. Risiko dapat dikurangi atau dihilangkan melalui manajemen risiko. Peran dari manajemen risiko diharapkan dapat mengantisipasi lingkungan cepat berubah, mengembangkan corporate governance, mengoptimalkan penyusunan strategik manajemen, mengamankan sumber daya dan aset yang dimilki pemerintah.

Memulai Lebih Awal

Pekerjaan atau aktivitas yang menjadi tanggungan kita, mungkin banyak yang sepakat bahwa semakin berat rasanya jika ditunda. Menunda suatu pekerjaan bisa karena: ada pekerjaan lain yang lebih prioritas, merasa tidak mampu, atau berbagai motif lainnya, juga karena malas. Pertama, Perasaan tidak mampu sebaiknya sih jangan ditunda, tapi tinggalkan saja (hehe). Kecuali jika perasaan tidak mampunya tersebut atas tanggungan kita, mau ngga mau, harus kita lawan dan kita yakini kita bisa. Mungkin istilahnya mendobrak establishment, meminjam ungkapan sahabat saya Margi Sugiarto. Jika saya interpretasikan yakni semacam membongkar suatu tatanan yang sudah mapan, tapi dalam konteks diri sendiri, kita bisa mengalahkan diri sendiri untuk membongkar rasa ketidakmampuan menjadi percaya diri. Mudah-mudahan nyambung. Selanjutnya, malas. Malas itu penyakit dan harus segera diobati, hehe. Buatlah ketertarikan untuk memecah rasa malas dan berbagai alasan yang mengharuskan kita melakukan pekerjaan terse...

Sisi Positif Berbisnis MLM

Bisnis Multilevel Marketing (MLM) sepertinya kurang mendapat perlakuan yang baik di ruang publik. Jadi bahan candaan dan selalu jadi momok dalam pembicaraan untuk sebisa mungkin dihindari. Misal ada temen posting di fesbuk dengan konten sebaik apapun, kalau itu MLM, mungkin mikir dua kali mau ngelike apalagi ikutan komen. takut diprospek. haha. Orang yang ikut bisnis MLM menurut saya justru lebih banyak positifnya, seperti: 1. Membangun mentalitas MLM mengajarkan kita untuk memiliki mentalitas yang kuat, pantang menyerah walaupun juga banyak dicibir. Terutama kuat yang satu ini > kuat malu. Sebagaimana seorang marketing, dia sangat yakin bahwa produknya paling unggul dan hampir tidak ada yang mengalahkan pada segmennya. Selain itu, walaupun dibelain gembel juga tetep yakin bahwa itu salah satu bagian dari proses menuju sukses. Siapa yang mentalnya ngga kuat akan terlempar dengan sendirinya. Bukankah positif thinking & membangun mental yang kuat juga selalu diajarkan oleh ...

Memandangi hidup

Gambar
Obrol mengobrol dengan tukang ojek diperjalanan menuju travel ke bandung. Dia tanya, mau kemana pak? ke bandung, kuliah. Wah hebat ya pak? hehe, biasa aja bang tinggal masuk kelas ntar juga lulus, sama aja seperti sekolah, semua orang juga bisa. Yang ngga mau lanjut kuliah paling problemnya cuma pilihan aja, males atau ngga punya duit. Lah bapak duitnya banyak dong? engga bang, saya kuliah dibayarin. hihi. Lanjut, tukang ojeknya curhat: Bapak beruntung ya, hidup saya mah susah! heuheu, saya jawab aamiin (dalem hati, gue juga biasa hidup susah).

Jangan dipaksa!

Paksa, memaksa, dan dipaksa, konotasinya negatif. Bisa juga sih jadi positif seperti memaksakan diri untuk menjadi pintar, dipaksa menyelesaikan kewajiban, dan dipaksa makan bakso. haha. memaksa berarti mengharuskan seseorang/diri sendiri untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan kita, biasanya disertai ancaman atau akibat yang buruk jika ngga dikerjakan. Jadi konotasinya tetap negatif, karena dikerjakan dengan keterpaksaan. Kata 'paksa' sendiri kadarnya sudah paling tinggi dalam kata imperatif, kira-kira serumpun dengan menyuruh, minta tolong, harapan, dan memberi pengertian. Kita ngga bisa memaksa orang lain untuk berbuat baik kepada kita, kita juga ngga bisa memaksa orang lain untuk bertindak sebagaimana ukuran baik menurut kita, lebih dari itu kita ngga bisa memaksa orang lain untuk meminta maaf kepada kita. Paling mungkin kita hanya bisa menunjukkan/menyampaikan pesan bahwa kita tidak suka

Era Sosmed Coy

Saat main futsal kemarin bareng temen-temen, saya ditanya "bang aki kok ngga punya path, bikin dong". Wew, sekarang udah era sosmed (sosial media) coy, masa ngga punya akun path! minimal klo lu jadi anak gaul, punya akun facebook. Trus, twitter dengan posting diatas 10 ribu, akun-akun sosmed lain semisal path dan instagram. Disamping sosmed, layanan chatting minimal yang harus punya bbm & whatsapp. sisanya ada wechat dan line. Era sosmed dengan sebutan " Generasi nunduk" -kebiasaan kepala selalu nunduk mantengin ponsel- merupakan era dimana derasnya arus informasi yang masuk ke otak kita, seolah-olah menjadi ketergantungan. Kala ngga ada aktivitas atau lawan bicara, sebisa mungkin kita cari cara untuk bisa nunduk, sekedar baca feed berita, lihat/posting update status, dan chattingan.

The Power of Kepepet

Gambar
Kita menjadi ‘bisa’ karena kepepet, dan kita pasti akan belajar kalau kepepet menjelang ujian. Apakah belajar atau menyelesaikan suatu pekerjaan itu nunggu kepepet? Bisa ya bisa ngga. Pertama, Saran saya sih jangan nunggu kepepet (deadline) agar kita bisa menikmati proses kerja kita dan menikmati proses belajar kita sehingga kita dapat memahami secara substansial apa yang kita kerjakan. Ketika sudah paham substansi tersebut, jika pekerjaan atau soalnya dibolak-balik dan dimodifikasi maka dengan mudah kita bisa menyelesaikannya. Selanjutnya, Kita bisa menyelesaikan tugas, pekerjaan, dan belajar menjelang kepepet. Yang ini saya tidak sarankan, walaupun saya juga masih sering seperti ini. Biasanya ada aja alasan untuk menunda pekerjaan dengan alasan malas, sedang ngga mood, ngga ngerti, kurang interest, terbentur dengan kesibukan lain, dan segudang problem yang lain.

Suri Tauladan

Gambar
Suri tauladan merupakan sosok yang dapat kita jadikan contoh untuk berperilaku, tentunya perilaku yang baik. Seperti pelajaran di madrasah dahulu, bahwa suri tauladan yang paling baik adalah Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad itu sosok ideal sebagai seorang manusia, bagaimana beliau mengatasi masalah, bagaimana beliau memperlakukan seseorang, bagaimana beliau mengajarkan ketaatan, sampai seluruh aspek kehidupan. Buat saya, mungkin kita, orang-orang terdekatlah yang sesungguhnya menjadi suri tauladan atau sosok yang dapat kita jadikan contoh untuk membentuk karakter. Tidak heran ada istilah jika ingin melihat sifat seseorang, maka lihatlah teman-teman bermainnya, sifatnya tidak jauh berbeda. Lingkungan memang mengkonstruksi secara dominan mindset seseorang untuk berperilaku dan memiliki kecenderungan untuk melakukan sesuatu, selain tiap-tiap orang juga unik dan memiliki independensi sendiri untuk berpikir, makanya kadang ada istilah orang sukses dan ngga sukses dalam satu lingkungan tert...